Sabtu, 08 Desember 2012

Rumahku

Jika mengatakan rumah akan banyak yang terlintas di benak saya. Entah itu orang-orangnya (Orangtua, Kakak, Keponakan dan Teman-teman terbaik) semuanya adalah paket komplit ibarat sayur dan garam. Tidak mudah menjaga sebuah komunikasi dalam rumah tapi yakinlah pasti selalu ada yang mampu membuat komunikasi itu menjadi sebuah kebahagian tersendiri dalam hidup. Baru 3 minggu kurang saya berada dirumah setelah sekian lama saya merantau di tanah parahyangan, sudah berapa kali pertengkaran terjadi tapi itulah sebuah tanda bahwa keluarga saya masih bisa berkomunikasi. Bumbu dalam keluarga saya memang seperti itu dan sudah khasnya dengan ledekan. Walaupun saya masih merindukan yang sudah tidak mungkin terjadi, yaitu saya menjadi anak SD lagi, Kakak-kakak yang mengelilingi saya dan siap siaga melindungi. Kenyataan saat ini sayalah yang dikelilingi oleh keponakan yang berjumlah 10 orang. Sudah saatnya sayalah yang melindungi keponakanan-keponakan layaknya orangtua nya terdahulu memperlakukan ketika ku kecil. Beban sudah tidak kecil lagi, masih banyak yang harus saya berikan untuk rumahku terutama orangtua (Bapang dan Ibuk).Berproses  memang yang sedang saya jalani ini, semoga dengan segera saya bisa mencapai keberhasilan yang sangat bermanfaat untuk rumahku.

Real of Life

Setelah 5 tahun merantau di tanah parahyangan, akhirnya saya benar-benar kembali ke tanah kelahiran saya (SUMSEL). Lebih kurang 1 bulan saya berada dirumah, mulai satu persatu terlihat dunia yang selama ini tidak dilihat. Entahlah sudah terlalu lama saya tertidur dari kehidupan yang senyata-nyatanya. Banyak yang membuat saya terluka tapi memang begitulah keadaannya, di dunia ini akan selalu ada yang mencampakkan dan dicampakkan, menendang atau ditendang, mencintai dan dicintai, memanfaatkan dan dimanfaatkan bahkan banyak lagi hal-hal yang tidak habis pikir bisa dilakukan. 
Terkadang membuat saya ciut nyali untuk bertempur tapi saya berbikir keras, inilah kehidupan yang sesungguhny dan sudah menjadi waktunya untuk menaklukan atau saya ditaklukan dengan mudahnya oleh dunia ini. Sesungguhnya mencari dan dicari yang akan menjadi babak awal buat saya untuk memulai kehidupan, walaupun yang saya cari pun belum tahu pasti. Bahkan orang terdekat saya pun banyak yang tidak mengerti apa yang ada sebenarnya di dunia ini. Banyak yang diabaikan hanya mengingat dan memuaskan nafsu yang tidak ada ujungnya. Hanya ingin tetap sadar bahwa dunia kalau dikejar tidak akan habisnya, saya mengharapkan tidak melupakan kalimat itu sampai akhir hayat. Setidaknya saya bisa bahagia dan tersenyum ditengah hiruk pikuk kehidupan